Devildice : Interview with Jerinx

Posted: August 5, 2010 in What News


Current mood:  bouncy
Category: Life

> Tentang Musik

> 1. Sebagai seorang musisi, mana lebih asyik bagi

> Anda, main drum seperti

> di SID, atau main gitar dan nyanyi seperti di

> Devildice?

Sebenarnya keduanya seru dan menantang, cuma bedanya di drum lebih terasa berat di fisik, apalagi kalo sudah lebih dari 15 lagu. haha. Analoginya begini, sisi riang saya terwakili saat bermain drum, sisi murung saya terwakili lewat gitar/nyanyi. Dan keseimbangan kedua sisi tsb membuat hidup saya lebih menarik.

> 2. Sebagai personel SID yang sudah lama melakoni

> band indie dan akhirnya

> go national, Anda kerap dijadikan sebagai contoh,

> kiblat atau panutan bagi

> band-band indie baru. Apa komentar Anda?

Kalau -khususnya- dalam bermusik mereka tetap menjadi diri sendiri, tidak masalah dan itu bagus. tapi akan terlihat konyol aja kalau sebuah band menjiplak habis gaya bermusik band lain 100% karena saya yakin setiap band pasti punya ciri khas sendiri kalo mau serius manggali. Kalau menjiplak dalam hal strategi management, attitude, filosofi atau fashion sih mungkin ga terlalu masalah, tapi kalo musik, tunggu dulu….

> 3. Pernah nggak merasa terbebani dengan popularitas

> SID?

Akhir-akhir ini sudah tidak lagi karena saya sudah bisa berdamai dengan diri sendiri dalam hal yang satu ini. Kalo dulu masih sering agak tidak terima atau terganggu dengan efek popularitas, sekarang sudah bisa menerima. Ini jalan saya, Tuhan memberi saya kesempatan yang tidak akan datang dua kali, dan akan saya manfaatkan sebaik-baiknya dengan cara berkarya terus sampai nafas ini berhenti.

> 4. Bisa digambarkan seperti apa menyatunya Jerinx

> dengan musik, khususnya

> drum?

Haha, kadang romantis kadang berantem. susah diprediksi. ada saat dimana saya malas sekali bermain drum, ada saat saya merasa drum-nya yang malas saya mainkan. Ada juga saat dimana kita berdua kompak menghajar adrenalin penonton dengan semangat membara, dan diakhir acara saya membelikannya hadiah spt cymbal baru, bendera bajak laut atau goresan indah pin stripe pada kulit putihnya. dia sangat menyukai hal-hal tsb.

> 5. Bagaimana kalau misalnya Anda harus hidup tanpa

> drum, tanpa gitar,

> tanpa musik?

Saya akan menjadi gila, tapi tetap saja mempesona.

Hey, mungkin dalam kegilaan itu saya akan menciptakan sejenis alat musik baru, menjual hak paten-nya ke Hollywood, membeli rumah asri di pinggir pantai Sanur dan hidup bahagia bersama istri saya yang cantik dan pintar memasak. Lalu setiap harinya saya hanya berkeliling pantai naik sepeda, menanti sunset dengan sebotol bir dingin di tangan kanan….

> 6. Sepuluh tahun lebih jalan dengan SID, pengalaman

> apa saja yang Anda

> dapat, baik dalam hal permainan di bidang musik,

> mungkin juga soal

> menjalani kehidupan?

Hmmm, pelajaran paling berharga yang saya dapat selama bersama SID adalah tentang pengertian dan toleransi. Kalo dulu kita banyak melakukan hal-hal diluar musik bersama-sama, spt. keluar malam, mabuk bareng dll, sekarang situasinya sudah sedikit berubah. Ada yang sudah berkeluarga, ada yang mulai serius dengan masa depan dan ada yang mulai mengurangi konsumsi alkohol [saya], jadi otomatis kedekatan kita sekarang sedikit berbeda dengan dulu. Kalo dulu kita salto kesana kemari tidak beraturan, sekarang tetap salto tapi lebih teratur. Hahaha. Dan disinilah pengertian dan toleransi itu berfungsi. Sampai sekarang kita tetap bersama karena kita tahu kita sangat saling membutuhkan dan mempunyai misi yang sama dalam bermusik. Untuk hidup dan memberontak.

> 7. Jerinx identik dengan SID, SID serasa tak lengkap

> kalau tanpa Jerinx.

> Bagaimana menurut Anda?

Biasa saja, SID juga akan terasa aneh kalau tanpa Bobby atau Eka. Mungkin orang memandang begitu tentang saya karena saya yang paling sering berbicara mewakili SID. Setiap band kan perlu spoke person/juru bicara, dan sejak awal tugas itu jatuh ke saya. Eka dan Bobby juga punya tugas sendiri, Eka menangani mechandise dan website supermanisdead.net, Bobby menangani masalah rekaman dan sound.

> 8. Bagaimana dengan aktivitas Anda di Devildice?

> Ketika SID sibuk, apakah

> berarti Devildice “telantar”? Mungkin ngga Devildice

> bakal sebesar SID?

Saat ini SID lumayan sibuk [kita baru pulang dari Banjarmasin, besok ke Jawa Timur] tapi Devildice minggu depan tour di 3 Bar di daerah Kuta. Haha. Devildice tidak pernah terlantar karena jiwa murung saya ada disana. Selama saya masih bisa sedih/marah, Devildice akan tetap ada. Sebesar SID saya rasa tidak, karena band ini sejak awal memang saya proyeksikan hanya untuk bersenang-senang sambil meluapkan amarah saya thd dunia. Anak2 Devildice juga sudah dari awal tahu ttg itu.

> 9. Bagaimana kesan rekan2 di Devildice akan

> kesibukan Anda di SID?

Justru mereka senang sekali kalo saya sibuk dgn SID karena itu artinya mereka tidak saya teror untuk latihan 3 jam sehari. Haha, gak kok, mereka semua santai karena rata2 juga sibuk dgn pekerjaan utama mereka [penjaga toko, calo tanah, konstruksi besi dan koki].

> 10. Bagaimana pandangan Anda mengenai banyak

> bermunculan band-band indie

> di Bali khususnya saat ini?

Saya rasa itu hal yang sangat bagus. Studio musik/rekaman laku, toko musik laris, distro dimana-mana, itu semua kan sama dengan industri baru, dan industri baru sama dengan lahan pekerjaan baru. Mungkin sedikit bisa mengurangi jumlah pengangguran di Bali. Tapi tetap pada akhirnya, band yang serius dan berdedikasi tinggi saja yang akan tetap bertahan dari goresan waktu.

> 11. Di kalangan musisi remaja atau muda, tak sedikit

> yang berpikiran untuk

> menggunakan merek-merek ternama atau bahkan kalau

> bisa memakai alat musik

> yang mahal. Apa pandangan Anda? Apakah memang harus

> seperti itu?

Merek mahal memang menghasilkan sound yang bagus [kalo tahu cara memakainya], tapi kalo karakter sound-nya tidak cocok dengan musik kita, untuk apa? Bagus itu kan relatif. Saya sendiri sampai sekarang pakai drum Pearl bekas [2 juta] dan ampli Fender bekas [1 juta]. Kalo sound-nya memang pas, ya gak peduli kalo itu barang bekas/murah. Sama seperti pakaian, anda memilih memakai jeans Levi’s yang kekecilan atau jeans biasa namun pas? Solusi saya, jual Levi’s anda, cari jeans di pasar second hand, bisa dapat 5 pasang plus jalan-jalan!

> 12. Kalau untuk main dan rekaman, Anda sendiri

> termasuk “cerewet” atau

> pemilih sekali nggak, dalam urusan alat? Mungkin

> misalnya ada alat yang

> bagus walau mereknya tidak terkenal?

Untuk drum memang agak susah karena rata2 drum yang merk-nya tidak jelas sudah hampir pasti suaranya jelek. Kalau mau aman tapi tidak terlalu mahal, merek  Tama atau Pearl cukup representatif. Untuk gitar, merk Epiphone atau Squier. Rata-rata dibawah 2 jutaan tapi sound-nya cukup terjaga.

> 13. Apa tips Anda untuk pemain band baru atau musisi

> di Bali yang sedang

> semangatnya berlatih main gitar?

Jangan lupa beli pick gitar!

>

>

> Tentang karier, dan lain-lain

> 1. Apa saja kesibukan sekarang ini?

Diluar musik, saya terlibat  dengan mobil tua dan sepeda. Bersama Eka Rock dan teman-teman yang lain, kita membentuk Lonely King Kustom Kruisers, sebuah tim rider sepeda dengan jenis low rider, beach kruiser dan bmx. Kegiatan rutin kita kruisin’ seputaran pantai Kuta, Sanur dll seminggu sekali. Untuk bepergian sehari-hari [dibawah 2 km] saya juga berusaha untuk naik sepeda. Ya hitung hitung olah raga dan mengurangi tingkat emisi gas di bumi yang menyebabkan global warming. Selain sepeda saya juga menggambar tangan desain-desain untuk clothing saya, Lonely King, yang tokonya akan buka tahun depan di Kuta.

> 2. Sebetulnya apa cita-cita Anda dari kecil?

Dari SD

> 3. Terbayang ngga kalau akhirnya kedekatan Anda

> dnegan musik seperti

> sekarang ini?

Kalau waktu SD sih nggak, tapi sejak SMP sudah mulai agak-agak sadar kalau jiwa saya sebenarnya sudah saya jual kepada rock ‘n roll.

> 4. Pernah merasa jenuh nggak dengan kesibukan

> manggung, rekaman, atau

> segala hal yang berbau musik? Kalau pernah, apa yang

> Anda lakukan untuk

> mengatasi hal ini?

Sudah pasti kejenuhan itu ada. Tidak masalah karena diatasi dengan banyak hal; bersepeda, naik mobil tua, minum bir dingin, memasak, bersih-bersih rumah, baca buku, film, nonton pameran, bikin tattoo dll.

> 5. Bagaimana Anda memberi perhatian kepada urusan

> pribadi, sementara Anda

> punya jadwal yang cukup padat di musik?

Wah saya justru merasa jadwal musik saya masih kurang padat, hehe….

> 6. Bagaimana dengan planning ke depan, untuk

> berkeluarga?

Masih jauh…..

> 7. kalau ada kesempatan berbuat lain, selain di

> bidang musik, apa yang

> akan Anda kerjakan?

Yang pasti tidak jauh-jauh dari dunia seni, fashion dan life style. Mungkin jadi desainer, sutradara film, pemilik perpustakaan, mengelola galeri sepeda dan mobil tua atau menjadi owner pabrik bir rendah zat kimia.

> 8. Apakah Anda merasa sebagai seorang bintang,

> setelah SID kian melejit?

Ada saat-saat saya merasa ‘wow, kita sudah bisa sejauh ini…’ tapi ada juga saat dimana saya berpikir kita ini masih bukan apa-apa.

> 9. Belakangan Anda terlihat makin gemuk, makin

> bugar, boleh tahu rahasianya?

Pertama saya berhenti minum alkohol selain bir, dan kedua rajin ke gym.

> 10. Anda memilih sebagai seorang vegetarian. Apa

> pertimbangannya?

Vegetarian itu beberapa jenis, ada yang total tidak mengkonsumsi mahluk hidup selain sayur dan buah2an, ada yang tidak makan semua binatang tapi masih mengkonsumsi telur, susu, keju dll, dan yang terakhir tidak mengkonsumsi daging [sapi, ayam, babi dll] tapi masih mengkonsumsi ikan, telur, susu, keju dll. [Bisa search di google, ketik ‘vegetarian’] Saya berada di jenis terakhir tadi. Alasan saya lebih ke trauma masa kecil. Waktu SD secara dekat saya pernah menyaksikan orang menggorok babi. Saat mulai digorok, tangisan babi tsb saya dengar seperti tangisan manusia yang memohon untuk tidak dibunuh. Sedih sekali dia. Selepas SMA saya baca artikel ttg vegetarian, saya teringat lagi dgn tangisan babi tsb dan memutuskan untuk tidak memakan binatang yang menangis jika hendak dibunuh. Saya berpikir, secara etika, jika saya tidak berani membunuhnya, kenapa saya memakannya? Tapi saya sama sekali tidak punya masalah dengan orang yang memakan daging, ini cukup buat saya saja.

> 11. Anda juga dikenal peduli dengan masalah sosial

> seperti beberapa kali

> memprakarsai konser amal. Apa pendapat Anda mengenai

> pentingnya kepedulian

> sosial, walau dari musisi sekalipun?

Penting sekali, karena menurut saya kesenian sudah seharusnya memihak kepada hati kecil, kepedulian dan kebersamaan. Semua seni tercipta dari pemberontakan untuk hal-hal yang lebih baik. Lukisan, tarian, musik, puisi. Seni-seni tsb akan terasa hambar jika tercipta dengan motivasi dangkal seperti popularitas dan uang semata. Setiap seni harus punya hati.

> 12. Kalau boleh tahu, apakah Anda juga tertarik ke

> bidang spiritual, atau

> kebatinan?

Hahaha, belum sampai kesana.

> 13. Ke depan, apa obsesi yang ingin Anda wujudkan?

Ingin tour ke luar negeri bersama SID. Ingin membuka mata dunia kalau Indonesia bukan seperti yang digambarkan di TV/majalah/buku mereka. Saya ingin menunjukkan kalau Indonesia juga punya sub-kultur yang amat sangat membenci terorisme dan fasisme. Selama ini diluar negeri sana Indonesia digambarkan seolah-olah semua warga negaranya teroris, pandangan seperti yang ingin saya lawan karena saya sangat mencintai Indonesia dan keberagamanannya.

> 14. Apakah Anda juga mengikuti perkembangan lagu pop

> Bali belakangan?

Lumayan sedikit mengikuti, terutama acara klip Bali.

> 15. Adakah penyanyi lagu pop Bali yang Anda suka,

> atau mungkin lagu pop

> Bali yang Anda sukai?

Ada, selain Lolot saya suka lirik-lirik lagu Jhonny Agung & Double T , XXX dan AA Rai Sidan. Lirik mereka tidak terdengar cengeng dan punya pesan sosial yang cukup bagus, terutama utk masyarakat Bali.

> 16. Di rumah punya koleksi barang atau benda

> tertentu yang Anda suka?

> Kalau iya, seberapa banyak? Dari mana Anda

> mendapatkan, dan berapa banyak

> biaya yang dikeluarkan untuk itu?

Untuk hal-hal seperti ini bisa dikatakan saya orang bodoh. Saya sangat mencintai mobil tua, sampai mungkin sebagian besar penghasilan dari musik saya habiskan disana. Padahal rumah masih ngontrak, tidak punya garasi, tapi tetap saja saya menemukan diri saya diperbudak oleh hobby yang satu ini. Tapi ini bukan sekedar hobby, jiwatman saya ada disini. Mungkin saya terobsesi akan gagahnya lifestyle hot rod Amerika dan kultur-kultur anak nakal California. Sejauh ini saya baru mampu mengumpulkan dua mobil Chevrolet Impala tahun 62 dan 66. Yang 66 saya dapat di Renon tahun 98, yang 62 saya dapat di Seminyak tahun 2006. Saya juga kolektor mobil-mobilan keluaran Hot Wheels, terutama utk jenis mobil tua Amerika. Selain mobil dan sepeda, saya mengoleksi barang-barang/memorabilia yang berbau tahun 50 sampai 60an, seperti jukebox, microphone klasik, dadu, boneka-boneka setan & malaikat dan poster/buku biography. Oya satu lagi, saya juga mengoleksi barang-barang yang bermotif macan atau zebra, dari pakaian sampai perabotan rumah. Dan kedua tangan ini selalu terbuka jika ada yang berminat untuk menambah koleksi saya.

> Nama lengkap : I Gede Ari Astina

> Tempat, tanggal Lahir : Kuta 10 Februari

> Hobi : Krusin’ naik sepeda atau mobil tua.

> Musisi Idola : Musisi-musisi yang sudah mati.

Read more: http://blogs.myspace.com/index.cfm?fuseaction=blog.view&friendId=12546606&blogId=284025443#ixzz0vkDplamV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s